June 2013
2 posts
May 2013
13 posts
Barusan stalking orang dan (sedikit) kaget.
Well, dia gak kenal gue. Gue kenal dia. Tapi mungkin gak kenal. Entahlah.. Kita terjebak dalam identitas yang dipalsukan seseorang.
Lagi asik scrolling timeline-nya, tiba-tiba menemukan satu tweet berisi ucapan terimakasih. Karena penasaran, gue view conversation.
Deg……..
Ternyata dia udah nikah sebulan yang lalu.
Masih gak percaya.. Gue bukan akun seseorang yang gue tau sebagai pasangannya.
Liat bionya, ternyata bener :’)
Ya Allah.. terharu banget waktu tau mereka udah nikah.
Ternyata hubungan mereka semasa kuliah itu berujung di pelaminan.
Gue juga nemu foto nikahannya yang dipost di instagram. :’)
Saat itu juga gue membatin. Berdoa dan berharap suatu hari nanti gue sama R bisa kaya mereka.
Berakhir di kursi pelaminan sebagai Raja dan Ratu selama sehari. Terikat janji suci bernama pernikahan.
Ya Allah, saya gak tau kemana cinta ini akan bermuara.
Saya cuma bisa berharap dan terus berdoa, kalau dia adalah pria terbaik yang Engkau kirim untuk mendampingiku kelak.
Ternyata begini rasanya? Antara sakit, kecewa, semua melebur menjadi satu. Rasanya begitu sulit mengembalikan kepercayaan yang pergi entah kemana.
Kemana lagi saya harus mencari kepercayaan?
Saya merasa terjebak di antara kawanan serigala yang pandai menyamar.
Kemarin dia menjadi seekor domba penyakitan.
Hari ini dia menjadi seekor anak kucing yang lucu.
Ternyata begini rasanya linglung? Kehilangan arah dan tak tahu harus berjalan kemana.
Satu persatu mereka yang saya percaya justru pergi meninggalkan saya. Mereka pergi dan meruntuhkan tembok kepercayaan yang sudah susah payah saya bangun.
Saat ini saya hanya mampu diam. Bungkam dengan berbagai macam rasa yang berkecamuk. Mungkin ini yang terbaik. Setidaknya saya bisa lebih waspada. Menghindari adanya kemungkinan serigala lain yang datang menyamar.
Saya rindu. Saya rindu seseorang yang benar-benar tulus berada di sisi saya. Bukan mereka yang hanya mendekat karena “sesuatu”.
Saya bukan sampah.
Saya bukan mainan.
Saya bukan protagonis yang bisa kamu tindas.
Saya bukan kambing hitam yang bisa kamu jadikan sebuah alasan untuk membenarkan dirimu sendiri.
Hari ini saya dikecewakan oleh cerita seseorang. Dia yang mengaku “teman”, ternyata hanya sebatas mengaku-ngaku. Nyatanya dia menjelek-jelekkan saya di hadapan teman lainnya.
Ya, untuk saat ini saya hanya bisa memendam dan berterima kasih padanya.
Berkat dia, saya semakin yakin kalau
Cuma hati sendiri dan Tuhan yang bisa menjadi teman curhat dan 100% terpercaya. Jangan pernah mengutarakan apa yang kamu rasa terhadap orang lain. Bisa jadi dia yang mengaku teman, hanya sebatas mengaku saja tanpa pernah bisa bersikap layaknya seorang TEMAN.
― Alex Flinn, Beastly” —(via dreee-amer)
Gue gak ngerti ibu macam apa yang duduk di sebelah gue waktu di kereta tadi siang. Asli, gak ngerti.
2 ibu yang duduk di sampin gue ini asik bergosip. Yang satu “iya-iya” aja, yang satu lagi sibuk bercerita dengan gaya sedikit pamer.
Sepertinya ibu yang heboh sendiri itu seorang janda.
Dia cerita soal pertengkaran dia dan anaknya. Kayaknya mereka sering berantem. Dengan satu topik, yaitu “umi mau kawin lagi”.
Yap! Dia cerita kalo anaknya menentang. Dia gak mau punya ayah tiri. Si ibu juga kekeuh mau nikah lagi. Dia menceritakan argumen-argumennya ke temennya itu.
“Emang kenapa sih? Kalo umi masih ada jodohnya sama orang lain, kamu dosa loh ngalang-ngalangin umi nikah lagi!” Kata si ibu itu waktu cerita gimana pembelaan dia waktu anaknya gak terima dia mau nikah lagi.
Si ibu juga cerita, pernah suatu kali anaknya jutek sama pacarnya dia itu. Lantas, apa yang dia katakan ke anaknya?
“Kamu tuh gak boleh begitu sama om (lupa)!! Kamu tuh mesti inget! Siapa yang biayain kamu kuliah? Dia tuh orang baik! Umi gak ikhlas dunia akhirat kalo kamu begituin dia! Sekali lagi kamu jutek sama dia, umi gak ikhlas!”
Kemudian, apa kata si anak?
“Iya, aku tau! Dia kan baik karena mau sama umi. Kalo gak mau juga gak begitu.”
Si ibu masih terus bercerita gimana pertengkaran dia sama anaknya. Gue? Gue cuma bisa istigfar dalam hati.
Astagfirullah.. Kok ada ya ibu yang lebih milih orang lain daripada anaknya sendiri? Mbok yah kalo emang anaknya belum bisa menerima, jangan dipaksa. Cinta? Apa cintanya buat laki-laki itu lebih besar daripada cintanya sama anaknya sendiri?
Tunggu! Itu cinta atau perjuangan lain?
Dari cerita si ibu yang gayanya selangit itu sih gue bisa sedikit nangkep kalo pacarnya dia itu sodaranya Budi Anduk. Fakkkk!!! :))
Doi bangga banget nyeritain soal pacarnya itu ke temennya.
Dia bilang, “kita kan kawin nyari untung ya? Kalo rugi mah siapa juga yang mau?”
Dia bilang si om ini baik banget. Banyak bantu dia. Ngebantuin biaya kuliah anaknya.
Dia juga cerita kalo nanti nikah gak mau dipestain. Malu, katanya. “Ya paling ngundang temen-temen wartawan aja.”
Anjis! Gaya bener nih ibu!
Dengan cara bercerita seperti itu, gue malah jadi berpikir kalo si ibu ini matrealistis. Gue malah mikir kalo dia cinta sama harta si om. Itulah kenapa dia sangat amat membela pacarnya dan perang sama anak sendiri.
Emas di tangannya berderet. Tapi sayang, dengan gelang berderetnya itu, sepertinya dia masih gak sanggup beli deodorant atau pewangi ketek lainnya. Yoi, dia bau-bau gak sedap gitu.
Gue jadi mikir, kasian banget anaknya dia. Gue ada di posisi yang sama kaya dia. Belum bisa menerima kehadiran orang tua baru.
Gue gak peduli mau calon bokap gue tajir kek, ganteng kek, apa kek, gue gak peduli. Yang jelas, gue masih gak bisa mengganti posisi bokap dengan orang lain. Pengen sih ngeliat nyokap punya pasangan lagi. Tapi, gak semudah itu. Masih ada rasa mengganjal tiap kali ngeliat nyokap punya pacar.
Mungkin suatu hari nanti.
Yang jelas, bukan sekarang.
Dan kalo sampe nyokap gue tega bersikap kaya si ibu tadi, gue sih gak segan-segan hengkang dari kehidupannya.
Buat apa? Baut apa punya orang tua yang pada kenyataannya lebih sayang sama orang lain dibanding sama anaknya sendiri.
April 2013
20 posts
Suka banget sama lagunya Glenn yang ini. aaakkkkk!!!!
Ini yang cover namanya Rifki Ikhsani. Vokalisnya Ragazzo (Band-nya Rama)
I cant live without you
Take me to your place
Where our hearts belong together
I will follow you, ‘cause you’re the reason that I breathe.
Pernah memperjuangkan sesuatu dan yang diperjuangkan menolak untuk diperjuangkan? Pernah menyerah, kemudian berniat melepaskan? Pernah bersikap tegar, ikhlas, menerima, namun dibalik itu menyalahkan “rasa” yang datang setelahnya?
Sesederhana itu yang disebut kegilaan cinta. Aku tak pernah melihatnya sebagai sesuatu yang salah. Bahagiamu adalah utamaku.
Jika ada yang salah, salahkan sunyi yang datang setelahnya.
Rasa sunyi
Aku ingin kau tahu perasanku
Melewati semua tanpamu di sini
Kadang ku menyesal, ku merasa hampa
Membiarkanmu pergi meninggalkanku sendiri
Meski ku merasa sepi
Tapi ku tahu kamu sedang bahagia ooh
Rasa sunyi tolonglah kau pergi
Jangan kau kembali
Rasa sunyi tolonglah jangan menghantui
Ku ingin kau berhenti membuatku sedih
Ingin rasanya aku dengar suaramu
Hanya tuk sekedar redakan rinduku
Meski ku merasa sepi
Tapi ku tahu kamu sedang bahagia ooh
Rasa sunyi tolonglah kau pergi
Jangan kau kembali
Rasa sunyi tolonglah jangan menghantui
Ku ingin kau berhenti membuatku sedih
Rasa sunyi tolonglah kau pergi
Jangan kau kembali (jangan kembali)
Rasa sunyi tolonglah jangan menghantui
Ku ingin kau berhenti membuatku sedih
Lagunya bagus. Ngena banget buat gue, dan mungkin orang-orang di luar sana yang juga capek berjuang, tapi gak bisa berhenti berharap. :)
Tahu Diri
Hai selamat bertemu lagi
Aku sudah lama menghindarimu
Sialku lah kau ada di sini
Sungguh tak mudah bagiku
Rasanya tak ingin bernafas lagi
Tegak berdiri di depanmu kini
Sakitnya menusuki jantung ini
Melawan cinta yang ada di hati
Dan upayaku tahu diri tak selamanya berhasil
‘pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah lagi
Bye selamat berpisah lagi
Meski masih ingin memandangimu
Lebih baik kau tiada di sini
Sungguh tak mudah bagiku
Menghentikan segala khayalan gila
Jika kau ada dan ku cuma bisa
Meradang menjadi yang di sisimu
Membenci nasibku yang tak berubah
Dan upayaku tahu diri tak selamanya berhasil
‘pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah lagi
Berkali-kali kau berkata kau cinta tapi tak bisa
Berkali-kali ku telah berjanji menyerah
Dan upaya ku tahu diri tak selamanya berhasil
Dan upaya ku tahu diri tak selamanya berhasil
‘pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah
Pergilah, menghilang sajalah
Pergilah, menghilang sajalah lagi
Kamis, 17 April 2013
Kemarin gue dan Rama (entah apa status kami) membuat janji spontan untuk jalan-jalan. Ke mana? Cuma ke Ragunan. Sederhana. Cuma pengen ngabisin waktu sama dia.
Tapi ternyata pepatah “manusia punya rencana, Tuhan yang menentukan” itu bener. Hari-H waktu gue otw kantornya dia dan gue udah sampe Harmoni, dia baru ngasih tau kalo bokapnya telpon dia mau minjem motor. Gue mikir, “emang motornya yg satu lagi kemana?”
Ternyata kakaknya gak pulang-pulang, jadi gak ada motor lagi. Tau deh kemana.
“Kita main di rumah aku aja ya. Papa aku tadi telpon mau minjem motor. Ntar aku traktir baso deh.. Jangan bete ya ya ya :(“
Gue sendiri gak bisa gak bete. Tapi keinginan gue buat ketemu dia jauh lebih besar daripada rasa bete yang gue rasain. Yaudahlah gpp, pikir gue.
Tapi di luar dugaan, gue baru sadar kalo kita bener-bener gak kemana-mana. Gak bisa kemana-mana :( Cuma main-main sama adeknya dia.
Akhirnya gue bete lagi. Uring-uringan gak jelas sama dia. Mukul-mukul dia, nyubitin dia, gigitin dia. Selain karena gak jadi jalan-jalan, pms juga sukses bikin hari gue makin buruk. Badmood banget banget banget.
Bokap sama adeknya gak pulang-pulang dan akhirnya ujan. Jam 4, jam 5, jam 6, Gue udah pusing banget mikir gimana nanti pulangnya. Udah malem banget soalnya. Akhirnya dia bilang “Aku nanti mau nganterin kamu sampe rumah. Nanti kamu liat google maps ya. Kalo nyasar kan bareng-bareng ini”
Selain nungguin ujan yang gak berenti-berenti, bokap sama adeknya dia juga gak pulang-pulang. Akhirnya gue baru pulang jam 7.30-an. Itu pun gerimis-gerimisan bareng sampe akhirnya basah kuyup.
Untuk pertama kalinya dia nganterin gue sampe rumah. Untuk pertama kalinya dan mungkin terakhir kalinya. Pasti dia kapok banget. Pamulang-Cakung by motor, via jalan macet, berbekal sotoy, hambatan ujan dan dingin.
Sepanjang Lebak bulus sampe stasiun Tanjung barat, cuma macet yang kita temuin. Jalanan bener-bener merayap. 3,5jam kita baru sampe di Kampung rambutan. Gue udah frustasi tingkat dewa. Gak tega ngeliat orang berbadan setipis dia menembus hujan. Gue yang berlemak tebel aja kedinginan, gimana dia?
Perjalanan lancar, cuma nyasar pas di perempatan Jatiwaringin. Harusnya belok kiri, gue malah nyuruh dia belok kanan. Maklum, udah malem jadi bego.
Perjalanan dari kampung rambutan sampe rumah gue sih cuma sejam palingan. Orang semalem dari Pondok Bambu ke Cakung aja cuma 25menit.
Sampe rumah gue, dia numpang ngecharge sama gue biarin dia tidur setengah jam. Nyokap gue udah nyapnyap aja gegara gue pulang malem banget.
Jam 12.30, gue bangunin dia. Matanya merah, pertanda dia masih ngantuk banget. Dia siap-siap pulang. Pas pake jaket malah menggigil soalnya jaketnya masih basah banget. Gue gak tega, takut dia malah kenapa-kenapa gara-gara kedinginan. Lagian badan tipis begitu -_-“
Akhirnya gue pinjemin jaket adek gue. Itu satu-satunya jaket yang keliatan cowok -__-” Sisanya cuma jaket gue yang cewek-cewek banget.
Pas ganti jaket, udah mendingan lah mengigilnya. Tapi karena celananya masih basah, dia masih kedinginan. Ya gimana dong? Gue gak punya celana cowok. Ade gue yang cowok kan badannya masih badan anak SMP. Celananya juga pasti ngatung kalo dipake Rama. -_-
Setelah ganti jaket, akhirnya dia pulang. Gue di rumah nungguin dia dengan harap-harap cemas. Akhirnya pas dia nyampe di pondok bambu, dia telpon gue. “Aku di depan sekolah kamu nih. Aku kemana lagi abis ini?”
Akhirnya gue kasih tau kemana aja jalannya. Sampe kampung rambutan, gue lepas dia soalnya gue gak tau jalan ke sananya lagi. Lagian dia udah tau lah jalan pulangnya kalo udah nyampe situ. Lurus-lurus doang kok.
Jam 2 lewat dia ngasih tau kalo udah nyampe rumah. Alhamdulillah..
Sebenernya sebelum dia nelpon gue yang pertama itu, gue nangis. Gue mikirin dia. Biasa lah. Cewek pms emang emosinya gak jelas. Gue nangis karena ngerasa hari ini gue berdosa banget sama dia. Pas lagi nangis, eh dia telpon. Berenti deh nangisnya. Takut ketauan.
Well, sampe detik ini gue gak tau status kita apa. :’)
Tapi yang jelas, gue seneng kemarin bisa seharian sama dia.
Harapan gue cuma satu. Gue cuma berharap dia gak menemukan pengganti gue dalam waktu dekat ini. Cause I’m still loving him. :’)
Menyiia-nyiakan itu part ter-nista dalam kasus jatuh cinta.
Iya, kamu nista.
Di luar sana masih banyak orang yang butuh cinta, kamu malah buang-buang cinta. Menyia-nyiakan orang dermawan yang berbekal ketulusan buat cinta sama kamu.
Ibaratnya, kamu itu peminta-minta. Dikasih 500 perak, malah dilempar. “Cih! duit segini buat apaan?”
Pernah nemu pengemis yang begitu? Aku pernah.
Kalo kamu masih nggak ngerti rasanya disia-siain, coba deh sekali-kali kamu ngasih uang ke pengemis sebesar 100 rupiah. Rasakan sensasinya kalau-kalau dia marah dan malah membuang uang yang kamu kasih.
Sakit hati, bukan?
Seperti itu aku. Berbekal keikhlasan, namun dibalas keangkuhan.
Ini hari ke-45. Hari apa? Hari dimana gue memutuskan buat diet.
D I E T.
Tanggal 1 Maret 2013 kemarin gue mulai diet. Olahraga, ngurangin makan, sampe lebay-lebay mikirin berapa kalori yang terkandung dalam 1 porsi nasi uduk, batagor, somay, sate, bakso, dll. Gue mulai diet ketat. Seminggu, 2 minggu, semua berjalan baik. Berat gue mulai menyusut secara perlahan. Yoi. Seneng lah perjuangan gue gak sia-sia. Tapi dari hari ke hari rasanya malah makin berat, bukan makin enteng.
Terlebih setelah ikutan futsal anak-anak cewek. Damn! Betis gue sakit gak sembuh-sembuh. Sampe sekarang pun masih suka sakit. Kaya tegang gitu rasanya. Dari situ gue mutusin buat istirahat dulu beberapa hari. Tapi ternyata, seminggu berlalu, sakitnya gak sembuh-sembuh. Gue tau, ada yang gak beres sama kaki gue. Akhirnya gue bener-bener berhenti olahraga sampe sekarang. Rencananya, tanggal 1 April gue mau mulai olahraga lagi. Tapi kaki gue masih sakit, gue takut malah gak sembuh-sembuh.
Hari ini tepat hari ke-45. Udah hampir 3 minggu gue berhenti olahraga. Sedih ngeliat temen gue yang menginspirasi gue diet malah makin kurus. Yoi, doi sih ngegym. Gue? Modal niat aja sama tekad. Haha.
Gue gak ngerubah pola makan gue. Gak makan nasi merah, obat, atau semacamnya. Gue tetep ngejalanin hidup kaya biasa. Bedanya, cuma semakin jarang makan dan rajin olahraga (kemarin2).
Banyak anggapan bilang, kalo mau diet itu harus tetep makan supaya metabolismenya tetep lancar. Gue mikir, kalo gue tetep makan seperti biasa dengan porsi yg dikurangin, bisa setahun kemudian gue baru bisa kurus. Itu pun gak menjamin! Jadilah gue memutuskan untuk mulai jarang makan dan rajin olahraga.
Tapi seminggu ini, nyokap mulai mengubah gaya masaknya. :))
Gue yang minta dengan alasan “siapa tau kalo gak makan yang berminyak-minyak jerawatnya sembuh”. Iya, selain bermasalah sama berat badan, gue bermasalah juga sama muka berminyak dan penyakit jerawat turunan. Gak elit!
Jadilah udah seminggu ini nyokap cuma masak sayur, pepes, sayur, pepes. Haha. Tahu pun gak digoreng, tapi direbus! Untungnya sih enak-enak aja. Pepes juga bukan pepes ikan. Seringnya dibikinin pepes oncom, pepes tahu, pepes tempe. Ya begitulah makanan gue sekeluarga selama hampir 2 minggu ini. Bosen? Enggak juga. Nikmatin aja. Positifnya, mendukung banget buat kegiatan D I E T, terhindar dari kolestrol, dan jauh dari kemungkinan penyakit diabetes yang menurun dari bokap.
Orang-orang kaya gue ini kalo mau kurus butuh perjuangan dan tekad yang kuat. Kenapa? Duit gue gak memadai buat nge-Gym, beli obat peluruh lemak, serta budget buat mengganti menu makanan jadi serba sehat dan rendah kalori. Jadi, bener-bener cuma butuh tekad dan semangat!
Well, positifnya sih berat gue udah turun 3-4kg selama 45 hari ini. Rekor diet gue itu waktu bulan puasa tahun 2011.
Gue pernah turun sampe 9kg. Tapi…. setelah berbulan-bulan gak menjaga pola makan, berat gue naik lagi 5kg. :’)
Dan setelah bertahun-tahun gak diet, gue bertekad harus diet lagi. Target gue 55kg. :’)
Masih ada 7kg lagi yg harus dicapai. Jadi, berat gue sekarang udah 62. Kalo naik, paling mentok sampe 63. Buahaha! Jauh? Entahlah.. Gue juga gak tau apa yang bisa bikin berat gue naik sampe sebegitunya. Mungkin buat orang-orang, 3kg itu gak ada artinya. Ya buat gue juga. Lemak di pipi, perut, sama paha aja udah berkilo-kilo. Cuma ngurang 3kg ya gak keliatan banget progressnya.
Capek sih.. tapi yang jelas, cantik itu mahal!
Keep spirit aja deh buat yang lagi menjalani proses penurunan berat badan kaya gue.
Gue pengen banget jogging tiap subuh, tapi gak berani —”
Yaudah, jadi selama ini gue olahraga cuma main skipping selama 60menit di dalem rumah. Oh iya, selain skipping, gue juga suka nari-nari sok energik. Biarpun gak ada gerakan pastinya, yang jelas gue nari dan berkeringat. Anggap aja lagi senam aerobik abstrak. Gue sih gak mau terlalu pusing. Jalanin aja olahraga yang menyenangkan buat diri sendiri.
Sempet frustasi sih karena prosesnya lama. Terus gue sadar, sehat itu gak ada yang instan.
Hari ini mau cerita soal mimpi semalem aja. :))
Mimpi apa semalam? Mimpiin mantan sebelum mantan yang sekarang. #mantanception
Ini mimpi kedua setelah waktu itu gue mimpi pergi ke pergi ke pensi bareng dia.
Jadi semalem itu gue mimpi Mr.X dateng ke rumah gue. Entah dia ngapain nongkrong di halaman rumah gue. Gue kaget. Penasaran, gue ngintipin dia dari jendela kamar. Tiba-tiba, dia berantem sama cewe di depan rumah gue. Fak!! Pas gue ngintip, dia neriakin nama gue “Ngapain lo ngintip-ngintip?!”
Gue pun keluar. Gue marah-marah. Masa gue gak boleh ngintip di rumah sendiri? -__-
Tau nggak dia bilang apa?
“Kenalin, ini pacar gue.” Gue cengo. Ada rasa marah waktu si cewek nyalamin tangan gue. Maksudnya apa? Ke rumah gue cuma mau ngenalin pacar barunya?
Dan dengan tiba-tiba dia bilang “MOVE ON, WIT! MOVE ON! Gue udah move on!”
Fak!!! Ini mimpi absurd banget. Tapi semua yang gue alamin di mimpi, itu bener-bener penuh “perasaan”. Ada nyeseknya, ada marahnya, ada sedihnya.
Sebenernya masih ada kelanjutannya. Tapi yang paling aneh ya pas dia marah-marah nyuruh gue move on. Lah? Gue ngeganggu dia juga enggak, tau-tau dimaki-maki disuruh move on. -____-
Well, sisi positifnya mungkin dia nyemangatin gue buat move on dari mantan gue setelah dia. Kalo sama dia sendiri sih gue udah move on dari 2 tahun lalu.
Minggu malam kemarin, saya dengan dua orang teman pergi ke daerah pecinan di Jakarta, khusus untuk makan bakmi. Jauh? Tentu saja, tapi demi kerinduan saya dan seorang sahabat, dan rasa penasaran seorang teman yang belum pernah ke sana, berangkatlah kami ke tempat itu. Khusus hanya untuk makan…
March 2013
42 posts
Barusan iseng berkunjung ke profile seseorang di Twitter. Gue sih gak follow dia.. Cuma iseng aja waktu liat username orang itu di tab mention seseorang. (Yeah, I’m a stalker!)
Kesan pertama waktu mampir di profile-nya cuma envy. Iya, envy. Mulai dari avatar, backgroud, sampe twitpict-nya, banyak banget foto dia sama pacarnya. :)
Iri. Iri dalam konteks yang lain. Bukan iri sampe pengen ngancurin kebahagiannya. Sekedar iri karena mereka keliatan bahagia banget di foto-fotonya, kemudian mikir “kapan ya gue kaya gitu sama pasangan gue?” (Kenyataannya gue sendiri. Tanpa tambatan hati. HALAH)
Enak kali ya pacaran lima langkah? Kalo kangen, nongolin kepala keluar jendela terus manggil namanya juga dia pasti langsung muncul.
Kadang gue mikir, kenapa bisa ada orang yang pacaran cuma 5 langkah, sementara banyak pasangan lain yang bertarung melawan jarak?
Entah apa definisi Tuhan tentang jodoh dan gimana tutorial menemukan jodoh. Ada yang perlu nyebrang laut buat ketemu sama belahan jiwanya, tapi ada juga yang dengan gampangnya nemu belahan jiwanya cuma dengan 5 langkah.
Kalo gue, udah jutaan langkah gue ambil, tapi hasilnya selalu nyasar di jodoh orang. Sekarang gue lagi kembali melangkah.
Gue gak tau, pada langkah ke berapa gue bakal ketemu dia,
Belahan jiwa.
Jakarta, 31 Maret 2013
Jangan seenaknya menyuruh aku mencari pengganti yang lebih baik dari kamu.
Ada ribuan manusia yang harus ku seleksi ulang.
Cinta tak pernah menyediakan pilihan instan seperti waktu pemilihan presiden, gubernur, walikota, dan semacamnya.
Cinta harus dipilih melalui seleksi ketat. Jika tidak, masa jabatannya pun akan singkat.
Seperti kamu yang tiba-tiba memutuskan lengser dari hatiku.
Halo! 1:58 PM.
Aku gak bisa tidur. Tadi mama ke kamar dan nyuruh ade aku pindah ke kamarnya buat nemenin dia.
Kalo lagi gak bisa tidur gini, aku pengen banget sms kamu. Aku pengen ditemenin kamu sms-an sampe ngantuk dan ketiduran. Seperti biasa (dulu).
Aku bingung mau apa. Aku nyalain laptop, aku buka twitter, dan sekarang aku disini. Disini, nulis tentang kangennya aku ke kamu.
Kamu yang disana, aku kangen suara kamu. Aku kangen wajah kamu. Aku kangen perhatian kamu. Aku kangen cara kamu menjaga aku. Aku kangen semua tentang kamu.
Dan di akhir paragraf ini, tepat air mata kerinduan ini menetes.
Kamu.. Masih ada kamu yang entah sampai kapan mengganggu pikiranku. Entah sampai kapan kamu berdiam memenuhi kepalaku. Entah sampai kapan aku sesak dan menangis tiap kali mengingatmu.
Kamu, aku rindu kamu.
Kepada Tuhan yang bisa membolak-balikan perasaan seseorang dalam satu kedipan,
Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada-Mu.
Aku memang masih terjebak dalam sedihnya putus cinta. Namun beberapa hari ini, ada yang berbeda.
Dia mencariku. Ya, mencariku untuk menumpahkan unek-unek dan membagi kesulitannya denganku. Aku senang, aku dibutuhkan.
Mungkin Tuhan hanya membuang perasaannya untuk sesaat, dan beberapa hari kemarin, Tuhan mengembalikan perasaan itu padanya.
Aku senang. Walaupun dengan status yang berbeda, rasa yang tercipta masih sama.
Ah, Tuhan memang hebat.
Selalu punya cara tersendiri untuk membuat umatnya bahagia.
Sekali pun dengan cara yang menyakitkan.
Ini salah satu lagu yang berhasil nyentil hati gue. Walaupun dari liriknya sendiri, ada beberapa bagian yang merupakan lirik dari lagu lain. Lagunya juga menurut gue “gruvi” banget.
