Rutinitas Malam

Aku menikmati tiap detik kerinduan yang mampir disini.

Hampir tiap malam dia berkunjung.

Memutar apa yang terekam dalam memori.

Mengajakku berdansa bersama.

Menari di bawah terpaan redup rembulan.

Tidakkah ini melelahkan?

Atau justru membosankan?

Aku tak pernah merasa bosan.

Aku tak pernah merasa lelah.

Aku ketagihan. Ketagihan menari dengannya.

Menikmati alunan lembut denting sang waktu.

Mengalun perlahan hingga mentari muncul di pelataran.

Perlahan tapi pasti, sosoknya tenggelam bersama sang malam.

Aku tersadar. Lagi-lagi aku bermimpi.

Selalu.

Kau selalu hadir dalam tiap malamku. Menemaniku hingga pagi menjelang.

Entah sampai kapan.

Aku selalu berkata bukan?

“Tinggal lah disini, jangan pergi lagi.”

Kamu selalu diam.

“Kapan kita bisa berdua? Tanpa jarak dan waktu tentunya.”

Kamu tetap diam.

Bisu, pekat dan hitam. Itu yang nampak padamu.

Berada dalam pelukmu tak membuatku hangat.

Karena kamu, serupa bayangan.